Denpost

Tanjung Benoa Kembali Gelar Pertemuan

Sepakat Tolak Reklamasi Teluk Benoa

Tanjung Benoa Kembali Gelar Pertemuan. Sepakat Tolak Reklamasi Teluk BenoaTanjung Benoa, DenPost
Rencana reklamasi Teluk Benoa benar-benar menguras perhatian tokoh masyarakat Tanjung Benoa. Pasalnya, sejak rencana tersebut bergulir di media, kerap muncul pro dan kontra di tengah masyarakat. Untuk memperjelas dan memperoleh kesepakatan terkait rencana reklamasi seluas 838 hektar Teluk Benoa tersebut, Sabha Desa Tanjung Benoa menggelar rapat dan membahas hal tersebut Selasa (13/8) malam.
Dalam rapat yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut warga Tanjung Benoa sepakat menolak reklamasi Teluk Benoa. Hadir dalam rapat tersebut Bendesa Adat Tanjung Benoa, Nyoman Wana Putra; Ketua Sabha Desa, Wayan Dibia Adnyana; Lurah Tanjung Benoa, Wayan Kembar; Ketua LPM Wayan Dharma, Himpunan Masyarakat Tanjung Benoa Bersatu ( HMTB), para prajuru desa adat, kelian banjar dan kaling se-Tanjung Benoa serta para tokoh dan kalangan generasi muda. Pertemuan dibuka oleh Ketua Sabha Desa, Desa Adat Tanjung Benoa, I Wayan Dibia Adnyana.

Selanjutnya, Bendesa Adat Tanjung Benoa, I Nyoman Wana Putra, mendapat kesempatan berbicara yang langsung menerangkan tidak ada kaitannya dalam isu reklamasi Teluk Benoa hingga kerjasama yang dilakukannya dengan pihak Yayasan Artha Graha Peduli. Wana kembali memaparkan kalau dirinya sempat didatangi oleh tiga investor yakni PT BSM, TWBI dan BBI. Tapi ditegaskannya, dalam hal ini dirinya sama sekali tak ada menyatakan persetujuan atas reklamasi Teluk Benoa. ’’Tapi tahu-tahu TWBI sudah memiliki rekomendasi,’’ katanya. Ketua Sabha Desa, Wayan Dibia Adnyana, menegaskan berdasarkan peta rencana reklamasi kawasan Teluk Benoa yang dikantonginya jika reklamasi teluk tetap dilakukan, akan memengaruhi perubahan dan kuatnya arus yang ada di sekitarnya. ’’Apalagi dalam hal pengurukan yang akan sangat berdampak pada Tanjung Benoa yang sudah eksis di dunia pariwisata. Jika jadi, arus akan sangat besar dan mengabrasi kawasan Tanjung Benoa yang lebih rendah. Selain itu, terumbu karang yang bagus pun akan hilang, soalnya pengurukan tak bisa hanya satu atau dua tahun saja,’’ bebernya.

Dalam pertemuan tersebut, Bendesa Tanjung Benoa, I Nyoman Wana Putra dan Ketua LPM Tanjung Benoa, I Wayan Dharma, yang sebelumnya dinilai sikapnya masih abu-abu didesak untuk menyatakan sikapnya apa menolak atau setuju mengenai reklamasi Teluk Benoa ataupun rehabilitasi Pulau Pudut. I Wayan Dharma pun menegaskan Forum Peduli Mangrove (FPM) sama sekali tak ada hubungannya dengan rencana reklamasi Teluk Benoa. Bahkan ketika disodori untuk bersumpah, Dharma pun menyanggupinya. ’’Iya, saya sanggup untuk itu,’’ ucap Dharma ketika didesak untuk bersumpah.

Pemimpin rapat yakni Ketua Sabha Desa, Dibia Adnyana, menegaskan keputusannya yakni seluruh masyarakat Tanjung Benoa menolak reklamasi 838 hektar Teluk Benoa dan setuju rehabilitasi Pulau Pudut. Ditambahkannya, selanjutnya pihaknya akan mengirim surat petisi penolakan dan akan disampaikan kepada Gubernur, DPRD Bali, Bupati, DPRD Badung dan yang terkait lainnya. Hasil rapat tersebut diharapkan menjadi dasar pertimbangan bagi Gubernur untuk segera mencabut SK tentang reklamasi Teluk Benoa. (113)

Facebook

Twitter

Komentar Terakhir

Guest (Alit wiartana Kerobokan kelod.)
Pak made Sujana, coba diberikan satu contoh upaya bpk kebijakan yg berpihak kpd masy lokal dlm permo...
Guest (suyasa)
Makanya jgn sbuk kampanye pak. Urus dulu pekerjaanmu sbg PNS. Ngurus pajak air tanah aja blm becus, ...
Guest (rai mengwi)
Bapak- bapak..mari kita berpikir dewasa dong...jgn hanya mikirin diri sendiri.....utk menjaga Bali y...
Guest (Gede)
Memang benar Moge sangat mengganggu…. Tak peduli lampu lalulintas pun dilanggar seolah-olah mereka...
Guest (Alit wiartana kerobokan kelod)
Anggaran telah ditetapkan dan Gayung bersambut, yg penting sekarang Pelaksanaan dan Pengawasan, bila...
Denpost - Media Komunitas Masyarakat Bali © 2011 Denpost Design by Fresh CMS